14 Mei 2009


BERTAWAKKAL KEPADA ALLAH SWT.


Termasuk di antara sebab diturunkannya rizki adalah bertawakkal kepada Allah Yang Mahaesa dan Yang kepada-Nya tempat bergantung. Insya Allah kita akan membicarakan hal ini melalui tiga hal :Pertama : Yang Dimaksud Bertawakkal Kepada Allah.Kedua : Dalil Syar'i Bahwa Bertawakkal Kepada Allah Termasuk Diantara Kunci-Kunci Rizki.Ketiga : Apakah Tawakkal Itu Berarti Meninggalkan Usaha ?

Pertama : Yang Dimaksud Bertawakkal Kepada Allah Para ulama -semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik balasan- telah menjelaskan makna tawakkal. Diantaranya adalah Imam Al-Ghazali, beliau berkata : "Tawakkal adalah penyandaran hati hanya kepada wakil (yang ditawakkali) semata". [Ihya' Ulumid Din, 4/259]

Al-Allamah Al-Manawi berkata :"Tawakkal adalah menampakkan kelemahan serta penyandaran (diri) kepada yang ditawakkali" [Faidhul Qadir, 5/311] Menjelaskan makna tawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, Al-Mulla Ali Al-Qari berkata : "Hendaknya kalian ketahui secara yakin bahwa tidak ada yang berbuat dalam alam wujud ini kecuali Allah, dan bahwa setiap yang ada, baik mahluk maupun rizki, pemberian atau pelarangan, bahaya atau manfaat, kemiskinan atau kekayaan, sakit atau sehat, hidup atau mati dan segala hal yang disebut sebagai sesuatu yang maujud (ada), semuanya itu adalah dari Allah". [Murqatul Mafatih, 9/156]

Kedua :Dalil Syar'i Bahwa Bertawakkal kepada Allah Termasuk Kunci RizkiImam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Al-Mubarak, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Qudha'i dan Al-Baghawi meriwayatkan dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang".[1]

Dalam hadits yang mulia ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang berbicara dengan wahyu menjelaskan, orang yang bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya dia akan diberi rizki. Betapa tidak demikian, karena dia telah bertawakkal kepada Dzat Yang Mahahidup, Yang tidak pernah mati. Karena itu, barangsiapa bertawakkal kepadaNya, niscaya Allah akan mencukupinya. Allah berfirman.

"Artinya : Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki0Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu". [Ath-Thalaq : 3]

Menafsirkan ayat tersebut, Ar-Rabi' bin Khutsaim mengatakan : "(Mencukupkan) dari setiap yang membuat sempit manusia" [Syarhus Sunnah, 14/298]

Ketiga : Apakah Tawakkal Itu Berarti Meninggalkan Usaha? Sebagian orang mungkin ada yang berkata :"Jika orang yang bertawakkal kepada Allah itu akan diberi rizki, maka kenapa kita harus lelah, berusaha dan mencari penghidupan. Bukankah kita cukup duduk-duduk dan bermalas-malasan, lalu rizki kita datang dari langit ?"

Perkataan itu sungguh menunjukkan kebodohan orang yang mengucapkannya tentang hakikat tawakkal. Nabi kita yang mulia telah menyerupakan orang yang bertawakkal dan diberi rizki itu dengan burung yang pergi di pagi hari untuk mencari rizki dan pulang pada sore hari, padahal burung itu tidak memiliki sandaran apapun, baik perdagangan, pertanian, pabrik atau pekerjaan tertentu. Ia keluar berbekal tawakkal kepada Allah Yang Mahaesa dan Yang kepadanya tempat bergantung. Dan sungguh para ulama -semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik kebaikan- telah memperingatkan masalah ini. Di antaranya adalah Imam Ahmad, beliau berkata : "Dalam hadits tersebut tidak ada isyarat yang membolehkan meninggalkan usaha, sebaliknya justru di dalamnya ada isyarat yang menunjukkan perlunya mencari rizki. Jadi maksud hadits tersebut, bahwa seandainya mereka bertawakkal kepada Allah dalam bepergian, kedatangan dan usaha mereka, dan mereka mengetahui bahwa kebaikan (rizki) itu di TanganNya, tentu mereka tidak akan pulang kecuali dalam keadaan mendapatkan harta dengan selamat, sebagaimana burung-burung tersebut". [Dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi, 7/8]

Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang hanya duduk di rumah atau di masjid seraya berkata, 'Aku tidak mau bekerja sedikitpun, sampai rizkiku datang sendiri'. Maka beliau berkata, 'Ia adalah laki-laki yang tidak mengenal ilmu. Sungguh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda.

"Artinya : Sesungguhnya Allah telah menjadikan rizkiku melalui panahku"

Dan beliau bersabda. "Artinya : Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya Allah meberimu rizki sebagaimana yang diberikanNya kepada burung-burung, berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang".

Dalam hadits tersebut dikatakan, burung-burung itu berangkat pagi-pagi dan pulang sore hari dalam rangka mencari rizki. Selanjutnya Imam Ahmad berkata, 'Para sahabat juga berdagang dan bekerja dengan pohon kurmanya. Dan mereka itulah teladan kita. [Dinukil dari Fathul Bari, 11/305-306]

Syaikh Abu Hamid berkata :"Barangkali ada yang mengira bahwa makna tawakkal adalah meninggalkan pekerjaan secara fisik, meninggalkan perencanaan dengan akal serta menjatuhkaan diri di atas tanah seperti sobekan kain yang dilemparkan, atau seperti daging di atas landasan tempat memotong daging. Ini adalah sangkaan orang-orang bodoh. Semua itu adalah haram menurut hukum syari'at. Sedangkan sya'riat memuji orang yang bertawakkal. Lalu, bagaimana mungkin suatu derajat ketinggian dalam agama dapat diperoleh dengan hal-hal yang dilarang oleh agama pula.?

Hakikat yang sesungguhnya dalam hal ini dapat kita katakan, 'Sesungguhnya pengaruh bertawakkal itu tampak dalam gerak dan usaha hamba ketika bekerja untuk mencapai tujuan-tujuannya".

Imam Abul Qasim Al-Qusyairi :"Ketahuilah sesungguhnya tawakkal itu letaknya di dalam hati. Adapun gerak secara lahiriah maka hati itu tidak bertentangan dengan tawakkal yang ada di dalam hati setelah seorang hamba meyakini bahwa rizki itu datangnya dari Allah. Jika terdapat kesulitan, maka hal itu adalah karena takdirNya, dan terdapat kemudahan maka hal itu karena kemudahan dariNya" [Dinukil dari Murqatul Mafatih, 5/157]

Diantara yang menunjukkan bahwa tawakkal kepada Allah tidaklah berarti meninggalkan usaha adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Hakim dari Ja'far bin Amr bin Umayah dari ayahnya Radhiyallahu 'anhu, ia berkata :

"Artinya : Seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakkal ?' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Ikatlah kemudian bertawakkallah" [2]

Dan dalam riwayat Imam Al-Qudha'i disebutkan.

"Artinya : Amr bin Umayah Radhiyallahu 'anhu berkata, 'Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah !!, Apakah aku ikat dhulu unta (tunggangan)-ku lalu aku bertawakkal kepada Allah, atau aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal ? 'Beliau menjawab, 'Ikatlah kendaraan (unta)-mu lalu bertawakkallah". [Musnad Asy-Syihab, Qayyidha wa Tawakkal, no. 633, 1/368]

Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa tawakkal tidaklah berarti meninggalkan usaha. Dan sungguh setiap muslim wajib berpayah-payah, bersungguh-sungguh dan berusaha untuk mendapatkan penghidupan. Hanya saja ia tidak boleh menyandarkan diri pada kelelahan, kerja keras dan usahanya, tetapi ia harus meyakini bahwa segala urusan adalah milik Allah, dan bahwa rizki itu hanyalah dari Dia semata.

[Disalin dari buku Mafatihur Rizq fi Dhau'il Kitab was Sunnah oleh Syaikh Dr Fadhl Ilahi, dengan edisi Indonesia Kunci-kunci Rizki Menurut Al-Qur'an dan As-Sunah hal. 28 - 35 terbitan Darul haq, penerjemah Ainul Haris Arifin Lc]


_________Foote Note.[1] Al-Musnad, no. 205, 1/243 no. 370, 1/313 no. 373, 1/304; Jami'ut Tirmidzi, Kitabuz Zuhud, Bab Fit Tawakkal 'Alallah, no. 2344, no 2447, 7/7 dan lafazh ini adalah miliknya ; Sunan Ibni Majah, Abwabuz Zuhd, At-Tawakkul wal Yaqin, no 4216, 2/419; Kitabuz Zuhd oleh Ibnu Al-Mubarak, juz IV, Bab At-Tawakkul wat Tawaddhu' no. 559, hal 196-197 ; Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibni Hibban, Kitabur Raqa'iq, Bab Al-Wara' wat Tawakkul, Dzikrul Akhbar 'amma Yajibu 'alal Mar'i min Qath'il

10 Mei 2009


SEDEKAH MENOLAK MUSIBAH YANG AKAN MENIMPA KITA


Dari Wonosobo menuju Jakarta bersama istrinya Mas Andre,teman saya itu, berangkat naik bus malam. Sore hari sekitar jam 05.00 WIB. Matahari mulai redup, mega merah menghias langit menyapu awan – awan , semburat dimana – mana membuat pemandangan sore itu semakin indah saja. Suasana terminal yang hiruk pikuk, riuh rendah oleh pedagang asongan serta kenek bus dan para calo penumpang yang berkeliaran mencari penumpang.

Mas Andre dan istrinya masuk kedalam bus yang dianggap cukup lumayan dijadikan pilihan untuk melakukan perjalanan jauh ini. Tempat duduk sudah hampir penuh, hanya ada beberapa kursi yang masih kosong, mas Andre dan istrinya memutuskan untuk duduk disitu. Sambil menunggu tambahan satu dua orang penumpang lagi, para pedagang asongan dan pengamen jalanan mengambil kesempatan untuk menjajakan dagangannya diatas bus tersebut atau menghibur penumpang dengan nyanyian dan alat musik yang ala kadarnya.

Ada anak kecil dengan pakaian yang lusuh, menenteng keranjang kecil berisi jeruk manis jualannya. Penampilannya yang kurang simpatik, bahasanya yang kurang persuasif untuk menarik minat pembeli, menjadikan jeruk jualannya tidak laku di bus itu, mungkin juga di bus –bus yang lain dihari itu, atau bahkan mungkin dihari – hari yang lain. Mas Andre merasa kasihan melihat anak itu. kasihan karena nampaknya ia anak yang kurang beruntung, dari tutur bahasanya menunjukkan anak yang kurang terlatih mengkomunikasikan dagangannya. Mungkin juga tidak ada sekolahnya, atau mungkin pernah sekolah kemudian putus sekolahnya.

Mas Andre membisikkan kalimat ketelinga istrinya yang ada di samping kanannya, :
“ Beli saja jeruk itu barang Rp. 10.000,- rupiah saja. “ katanya.
“ Jeruknya kelihatan kurang bagus, agak layu-layu gitu ?...........” sahut istrinya.
“ Ndak Apa –apa, untuk nolong saja anak itu, kasihan jualan jeruknya ndak ada yang mau beli. Kita harus bantu dia, biar gembira”, saran Mas Andre kepada istrinya.
Sang istri pun merogoh kantungnya, dipanggilnya si anak kecil penjual jeruk itu. dikeluarkan uang Rp.10.000,- dan dibayarkan untuk membeli jeruk itu.
“ Terimakasih...............plariiii.........sssss” anak itu gembira sekali.
“ Jeruk-jruuuuk.......... siapa lagi beli .....................” anak itu menawarkan.
Orang laki- laki yang duduk disebelah Mas Andri di kursi yang lain berkata :
“ Mas lha wong jeruk layu gitu kok dibeli..........mana enak rasanya?”.
“ Ndak apa – apa pak, untuk menghibur penjualnya saja kok”. Timpal Mas Andre.

Bus pun mulai merangkak berjalan, keluar terminal dan melaju kencang dijalan raya menuju Jakarta. Mas andre meletakkan tas Eigernya yang berisi Laptop, handuk , pakaian ganti di bagasi diatas tempat dudunya. Cuaca semakin gelap, shalat magrib terpakasa dilakukan sambil duduk diatas bus bersama lajunya perjalanan. Semakin lama semakin malam, rasa ngantukpun tak terhindarkan. Air Condtioner membuat badan semakin lama semakin menggigil. Sang istri pun menggoyang pundak Mas Andri yang sedang puncak – puncaknya ngantuk.
“ Ambil sarung..........di tas itu, saya kedingingan, untuk selimut”. Kata istrinya. Dengan sangat berat perasaan, mata sudah lelah sekali, Mas andre bangkit dari tempat duduknya mengambil tasnya yang ada di atas bagasi. terkejut luarbiasa, karena ternyata tas Eiger miliknya terbuka.
Seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, dia terus membolak –balik tasnya dan merogohnya berulang ulang. Dengan degup jantung yang kencang , suara lirih bergetar, ia berkata setengah berbisik kepada istrinya :
“ Astaghfirullah.....Laptop kita hilang ........”.
“ ......Astaghfirullah....???........Laptop kita Hilang??? ...” tanya istrinya penuh keterkejutan.
“ ........Tas kita dibongkar orang...........” .......Waduh........gimana?...........”
“ Lapor saja sama pak sopir........” kata istrinya.

Mas Andri pun setuju dengan saran istrinya tersebut. Mas Andre pun bangkit dari kursinya menuju kedepan mendekati sang sopir.
“ Maaf Pak sopir...........saya mau minta tolong pak..........” .
“ Ya .....ada apa ? “ sang sopir menimpali.
“ Maf pak .......saya kehilangan barang di dalam tas saya.....saya minta bantuan bapak untuk berhenti di pos polisi pak..............” jelas mas Andre.
“Bisa mas.......tapi ini masih jauh kantor polisinya. Kurang lebih setengah jam lagi...” kata pak sopir.
“Ya...kalau begitu.....saya minta izin mau melakukan penggeledahan pak.???” Pinta mas Andre.
“ hmm........oh.....Silahkan mas....” kata pak sopir agak ragu

Mas Andre berdiri mengambil posisi di samping pak sopir menghadap kearah semua penumpang.
” Assalamu Alikum warahmatullah wabarakatuh...maaf , bapak – bapak serta ibu-ibu seluruh penumpang di bus ini. Saya harus berdiri didepan bapak-bapak dan ibu-ibu berhubung ada masalah yang perlu saya sampaikan. Semoga tidak menjadi gangguan bagi kita semua. Maaf .....kepada semuanya tidak bermaksud menuduh ataupun berprasangka negatif kepada semuanya. Saya kehilangan barang, yaitu laptop di tas saya ( sambil menunjukkan tasnya yang robek di bongkar orang yang mencurinya ) ini, oleh karenanya saya mohon izin kepada semuanya untuk melacak dimana laptop saya berada.” Demikian mas Andre menyapaikan permohonan izin melakukan penggeledahan.

Setelah semua menyetujuinya, mas Andrepun bekerja menggeledah satu persatu barang - barang milik penumpang. Ternyata tidak ditemukan sama sekali laptop yang dimaksud, tetapi setelah terus dilakukan pencarian ternyata laptop itu kemudian ditemukan di tumpukan barang paling belakang. Nampaknya ada yang sengaja menyembunyikannya disitu. Tetapi siapa orangnya?? Mas Andre yakin pelakunya masih ada di dalam bus, karena bus ini belum pernah berhenti ataupun menurunkan penumpang sepanjang jalan sebelumnya.
Alhamdulillah..........akhirnya laptopnya ketemu juga, Walaupun cargernya tidak ditemukan. Mas Andre mengatakan kepada pak sopir agar tetap diusahakan berhenti di kantor polisi di depan, karena masih ada yang belum ketemu, yaitu carger. Pak sopir pun menyetujuinya. Bus melaju kencang seolah tidak mau tahu apa yang sedang terjadi di dalamnya. Tetapi kemudian bus berhenti.....menurunkan tiga orang penumpang ditengah jalan yang sebenarnya masih jauh dari perkampungan atau permukiman penduduk ataupun kota.

Melihat tiga orang turun dari bus dengan tampang mencurigakan , mas Andre pun penasaran , siapa sebenarnya mereka ??? mas Andre pun bertanya kepada sopir :
“ Maaf pak sopir, kok ada penumpang turun ditengah sawah ??? “ tanya mas andre serius
“ Biasa mas , penjual kain mereka itu.........sudah langganan turun disini.....” kilah pak sopir
Ndak lama kemudia kelihatan dari jauh papan nama kantor polisi. Mas Andre pun bersuara keras :
“ Pak ,pak ..pak berhenti depan kantor polisi pak....!!!”
Sang sopirpun menurut, bus diberhentikan di depan kantor polisi. Mas Andre turun dari bus, menemui beberapa personil polisi yang sedang duduk – duduk sambil nonton TV, kemudian bicara dengan mereka, mengemukakan masalahnya dan meminta bantuannya. Polisi naik keatas bus, setelah permisi kepada seluruh penumpang sejurus kemudian menggeledah seluruh barang – barang bawaan para penunpang, membuka tas mereka. Tidak ada yang ditemukan. Terus membongkar tumpukan tas di bagian belakang... disudut belakang bis itulah ditemukan carger laptop itu.
Lega rasanya.......mas Andre mengucapkan terimakasih kepada pak polisi.
Ada yang terlintas di pikiran mas Andre. Tentang tiga buah gelas Aqua yang ada di dalam tas laptop miliknya. Dia tidak merasa memasukkannya, tidak sengaja membawanya ??? tapi kok ada ....??? jumlahnya pas betul dengan tiga orang penumpang yang turun di tengah jalan sebelum sampai perkampungan ataupun kota.....???
Istrinya berkata kepadanya : “ Wah......jadinya tas kita rusak....jebol semua gini....” keluh istrinya.
“ Tidak apa – apa....yang penting laptopnya ketemu....” sergah mas Andre

Tidak lama kemudian, orang yang duduk disamping Mas Andre , (yang mengatakan bahwa, mengapa mas Andre membeli jeruk yang layu kepada anak kecil itu ? )karena sejak tadi, merasa gelisah setelah melihat kejadian hilangnya laptop mas Andre , karena sebenarnya dia meletakkan tasnya di dekat tas Eiger mas Andre juga. Isinya adalah uang sebesar Rp. 6000.0000,- untuk calon pengantin, anaknya. Jangan – jangan hilang juga........
Terdorong rasa penasaran , diapun bangkit darikursinya , mengambil tas miliknya, dan....................kaget luar biasa..............tas terbongkar juga ..........dan hilang uangnya Rp. 6000.0000,- itu........

Sungguh paniklah ia dan seluruh penumpang bus .......heboh di dalam bus. Tetapi uang itu tetap tidak ketemu.............

“ Luar biasa.......luar biasa....... Allah menolong kita karena kita menolong hambanya” kata mas Andre kepada istrinya .
“ Kita beli jeruk 10.000,- dari anak tadi dengan niat menolong supaya dagangannya laku, Allahpun menolong kita..... seandainya kita tidak menolongnya .......saya yakin laptop kita sudah dibawa lari.......alhamdulillah Allah menahannya tetap didalam Bus itu”

Pembaca sekalian, ada pelajaran yang kita dapat dari kisah nyata diatas. Sedekah itu menolak balak.......mari kita rajin – rajin bersedekah, berinfak di jalan Allah. ada fenomena menarik didalam kisah nyata tersebut : 1. mas Andre yang mau menolong penjual jeruk dengan cara membeli jeruknya yang tidak laku, 2. orang yang duduk disamping mas andri dan mempertanyakan mengapa mas Andre membeli jeruk layu itu. yang satu laptopnya ketemu dan yang lain hilang uangnya. Tentu anda bisa merasakannya bukan.....??? Anda yakin atau tidak adalah hak anda.
Selanjutnya tanpa bermaksud memprovokasi anda, semata – mata ingin menyampaikan dakwah, dan insya Allah manfaatnya akan kembali kepada kita semua, Kami mengajak anda untuk berpartisipasi membangun lembaga pendidikan bagi dhu’afa’ di Medan Sumatera utara , diatas lahan dua hektar di kelurahan Sari Rejo Polonia. Insya Allah bantuan kita untuk Allah , menjadi asbab terhalangnya kita dari sentuhan api neraka. Kami membuka peluang partisipasi anda untuk investasi akherat dengan bantuan Semen, pasir, batu bata, kayu , atap seng ataupun keramik, tidak harus berbentuk uang, seberapapun jumlahnya, yang penting ikhlas.

Silahkan datang ketempat kami.....mungkin ada ide ataupun masukan untuk kami, para pengelola amanah ummat ini.....atau silahkan hubungi kami di :
981346320765

08 Mei 2009




DI SUATU LEBARAN

Hari raya idul fitri telah tiba. Sejak pagi-pagi sekali, semua orang sibuk mempersiapkan pesta menyambut lebaran. Kota Madinah dipenuhi dengan suasana gembira. Waktu pelaksanaan sholat Id semakin dekat saja. Tua muda dengan pakaian terbaru mereka pergi menuju lapangan. Anak-anak turut beserta orang tua mereka, bermain dan bercanda ditempat agak jauh dari orang dewasa. Suasana disekitar lapangansemakin semarak dengan aroma wewangian yang melenakan dari pakaian yang melambai-lambai serta sapu tangan yang berkibar-kibarditimpa riuh-rendah suara anak-anak yang tiada henti.
Usai sholat Id anak-anak tampak sibuk mengucapkan selamat lebaran. Ketika Rasulullah hendak pulang, beliau melihat seorang bocah bertubuh kurus memekai baju compang-camping, duduk sendirian di salah satu sudutlapangan sembari melelehkan air mata.
Hati nurani beliau tersentuh. Dan beliau pun berjalan menghampiri anak tersebut, dengan penuh kasih sayang mengusap pundaknya dan bertanya, “mangapa menangis, nak?”
Si anak dengan marah menyingkirkan tangan Rasulullah dan berkata, “ Tinggalkan aku sendiri! Aku sedang berdo’a.”
Rasulullah membelai rambut bocah itu dan dengan suara yang penuh dengan kelembutan, beliau bertanya kembali , “ Katakan padaku,nak! Apa yang terjadi padamu ?”
Bocah itu menyembunyikan wajah diantara kedua lututnya, lalu berkata, “ Ayahku terbunuh dalam peperangan melawan Muhammad. Ibuku sudah menikah lagi dengan orang lain. Harta benda milikku dijarah orang. Aku hidup bersama ibuku, tetapi suaminya yang baru telah mengusirku pergi. Hari ini semua anak-anak sebayaku bercanda dan menari-nari dengan mengenakan pakaian barunya, tetapi diriku ? aku tidak punya makanan yang aku makan dan tidak ada atap yang bisa melindungiku”.
Air mata mulai meleleh dari pelupuk mata Rasulullah saw. Tetapi beliau tetap mencoba untuk tetap tersenyum sembari bertanya, “ jangan bersedih anakku ! Aku juga kehilangan ayah dan ibuku saat aku masih kecil”.
Si Anak menengadahkan kepalanya dan menatap Rasulullah saw. Ia segera mengenali wajah itu dan iapun merasa sangat malu. Dengan nada penuh kasih sayang Rasulullah berkata , “ Jika aku menjadi ayahmu dan ‘Aisyah menjadi ibumu dan Fatimah menjadi saudaramu, apakah kamu akan merasa bahagia, anakku?”
Sianak mengangguk pertanda setuju. Rasulullah segera menggandeng tangan anak itu dan membawanya kerumah beliau. Sampai dirumah beliau memanggil ‘Aisyah , “ Terimalah anak ini sebagai anakmu”.
Aisyah memandikan anak itu dengan tangannya sendiri dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang,dan memakaikannya pakaian. Seteh itu Aisyah berkata, “Sekarang pergilah nak. Kamu bisa bermain-main dengan temanmu, dan bila sudah kau rasa cukup,pulanglah.”
Si anak kembali ke lapangan seraya melompat-lompat kegirangan. Teman-teman sebayanya keheranan melihat perubahan secara tiba-tiba pada diri anak itu. Mereka menghampirinya dan menanyakan apa yang dia alami. Si anak malang itu menceriterakan semua peristiwa yang barusan dialaminya bersama Nabi.
Mendengar ceritanya,salahseorang temannya berkata dengan wajah cemberut, “Alangkah bahagianya bila hari ini ayah-ayah kita telah meninggal seperti ayahnya.”



Dalam kehidupan sehari-hari sering kita saksikan pemandangan yang serupa itu. Biasanya yang muncul di hati ini adalah perasaan kasihan. Namun sudahkah kita mencoba mengenali bisikan nurani kita dibalik perasaan kasihan itu? Tidakkah kita mau mendengar hati nurani kita dengan lebih sunguh-sungguh. Apa yang sedang dibisikkannya? Hati nurani ini mendorong kita melakukan apa?”Berbelas kasihlah ...” Dan pada saat hati nurani tak didengarkan, maka lepaslah momentum beramal utama.
Rasul tidak hanya merasakan kasihan. Tapi juga mendengarkan bisikan nuraninya dengan melakukan suatu amal nyata. Sikap beliau yang penuh dengan kelembutan dan kasih sayang kepada sang anak adalah sikap yang terpancar dari berfungsinya hati nurani. Sang anakpun terobati kesedihan hatinya. Apa yang datang dari hati juga akan menyentuh hati.


Kami, para pengelola Dakwah Centre Hidayatullah Polonia mencoba menghidupkan dal melatih kepekaan ruhani itu dengan menampung anak - anak yang kurang mampu untuk di didik di sebuah kampus islami seluas 2 ha di Polonia Medan. Kami tentunya mengajak semua pembaca situs blog ini untuk turut ambil bagian mengentaskan kemiskinan, miskin ilmu , miskin wawasan, miskin ruhani, dan miskin materi. Ingin bergabung ? hubungi : 081346320765 atau anda bisaberkunjung langsung ketempat kami ( alamat ada pada dasbord situs blog ini )